Kamis, 02 Maret 2017

Temukan Cinta Anda


Bila anda tak mencintai pekerjaan anda, maka cintailah orang-orang yang bekerja disana. Rasakan kegembiraan dari pertemanan itu. Dan, pekerjaan pun jadi menggembirakan.

Bila anda tak bisa mencintai rekan-rekan kerja anda, maka cintailah suasana dan gedung kantor anda. Ini mendorong anda untuk bergairah berangkat kerja dan melakukan tugas-tugas dengan lebih baik lagi. Bila toh anda juga tidak bisa melakukannya, cintai setiap pengalaman pulang pergi dari dan ke tempat kerja anda. Perjalanan yang menyenangkan menjadikan tujuan tampak menyenangkan juga.

Namun, bila anda tak menemukan kesenangan disana, maka cintai apa pun yang bisa anda cintai dari kerja anda: tanaman penghias meja, cicak di atas dinding, atau gumpalan awan dari balik jendela. Apa saja.

Bila anda tak menemukan yang bisa anda cintai dari pekerjaan anda, maka mengapa anda di situ? Tak ada alasan bagi anda untuk tetap bertahan. Cepat pergi dan carilah apa yang anda cintai, lalu bekerjalah di sana. Hidup hanya sekali. Tak ada yang lebih indah selain melakukan dengan rasa cinta yang tulus.
Sumber diambil dari ebook Motivasi Karya Ir. Andi Muzaki, SH,MT

Orang BerTuhankan Dinar


Ada sebuah kisah pada satu masa yaitu yang terjadi kepada Syeikh Abdul Qadir Al Jailani. Beliau didatangi oleh pemuka - pemuka kota Baghdad untuk diajak bersama-sama dalam satu majlis ibadah malam secara beramai-ramai. Beliau menolak tetapi pemuka - pemuka tersebut bersikeras juga mengajak beliau untuk turut hadir. Untuk dapat berkat, kata mereka. Pada akhirnya, dengan hati yang berat, Syeikh Abdul Qadir setuju untuk hadir ditempat itu.

Pada malam yang telah ditentukan, di satu tempat yang terbuka, beratus - ratus orang hadir dengan melakukan ibadah masing - masing. Ada yang sholat, ada yang wirid, ada yang membaca al Qur’an, ada yang bermuzakarah, ada yang bertafakur dan sebagainya. Syeikh Abdul Qadir duduk di suatu sudut dan hanya memperhatikan gelagat orang - orang yang beribadah itu. Di pertengahan malam, pihak penganjur menjemput Syeikh Abdul Qadir untuk memberi tazkirah. Beliau coba mengelak tetapi didesak berkali - kali oleh pihak pengatur. Untuk dapat berkat, kata mereka lagi. Akhirnya dengan hati yang sungguh berat, Syeikh Abdul Qadir setuju.

Tazkirah Syeikh Abdul Qadir ringkas dan pendek sahaja. Beliau berkata:
” Bapak - bapak dan para hadirin sekalian. Tuhan bapak - bapak semua berada di bawah tapak kaki saya “.

Mendengar kata-kata begitu itu, hadirin majlis syok terkejut dan menjadi gempar dan riuh rendah. Para hadirin terasa terhina dan tidak puas hati. Bagaimanakah seorang Syeikh yang dihormati ramai dan terkenal dengan ilmu dan kewarakannya bisa mengatakan begitu terhadap Tuhan mereka. Ini sudah menghina Tuhan. Mereka tidak sanggup Tuhan mereka dihina sampai begitu rupa.

Mereka sepakat hendak melaporkan perkara itu kepada pemerintah, jika pemerintah dapat mengetahui, diarahnya kadhi untuk menyiasat dan mengadili Syeikh Abdul Qadir dan jika di dapati bersalah, hendaklah dihukum pancung.

Pada hari pengadilan yang dibuat di khalayak orang ramai, Syeikh Abdul Qadir dibawa untuk menjawab tuduhan.

Kadhi bertanya, "benarkah pada sekian tempat, tarikh dan waktu sekian, Tuan Syeikh ada berkata di khalayak ramai bahawa Tuhan mereka ada di bawah tapak kaki Tuan Syeikh?"
Dengan tenang Syeikh Abdul Qadir menjawab, ” Benar, saya ada berkata begitu “.

Kadhi bertanya lagi, ” Apakah sebab Tuan Syeikh berkata begitu ? “.
Jawab Syeikh Abdul Qadir , ” Kalau tuan kadhi mahu tahu, silahkanlah lihat tapak kaki saya “.

Maka kadhi pun mengarahkan pegawainya mengangkat kaki Syeikh Abdul Qadir untuk dilihat tapak kakinya. Ternyata ada duit satu dinar yang melekat di tapak kakinya. Kadhi tahu Syeikh Abdul Qadir seorang yang kasyaf.

Fahamlah kadhi bahawa Syeikh Abdul Qadir mahu mengajar bahawa semua orang yang beribadah pada malam yang berkenaan itu sebenarnya tidak beribadah kerana Tuhan. Tuhan tidak ada dalam ibadah mereka. Hakikatnya, mereka tetap bertuhankan dunia dan bertuhankan uang. Dan uang satu dinar itu menjadi lambang dan simbolnya.

Kalau di zaman Syeikh Abdul Qadir Jailani pun manusia sudah hilang Tuhan dalam ibadah mereka, apakah lagi di zaman ini. Itu baru dalam soal ibadah, jika dalam hidup seharian, mungkin sudah tentu Tuhan tidak langsung diambil kira, mengatakan semua terjadi karena sendirinya

DEMIKIANLAH kisah singkat semoga bisa diambil hikmahnya, hiduplah sebenar - benarnya hidup, semua karna ALLAH, jangan ria, ujub, membanggakan keturunan, hidup cuma sementara didunia fana ini.
Wallahu’alam bisshawab.

Sumber diambil dari:
http://sunnahsunni.blogspot.co.id/2015/01/kisah-hikmah-syeikh-abdul-qadir-jailani.html

Orang Yang Paling Kaya Menurut Al-Qur’an dan Sunnah


“Bermegah-megahan (dengan banyak harta) telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. (Q.S. At-Takaatsur 102:1-2).

Dilihat dari sudut kacamata ekonomi, orang yang paling kaya mungkin adalah yang paling banyak uang atau hartanya, walau pun ia tidak beriman dan bertakwa serta walau pun kikirnya luar biasa. Namun kenyataan membuktikan orang yang bergelimang harta dan yang mempunyai uang simpanan dalam jumlah fantastis di berbagai bank besar, banyak juga yang gelisah, misalnya dicekam perasaan takut mati yang berlebihan.

Di sisi lain, bahkan ada hartawan yang hubungannya dengan pasangan hidupnya tak harmonis, selalu diterpa badai rumah tangga yang tak berakhir. Menurut kacamata tauhid, hartawan seperti ini pada hakikatnya miskin, walau pun uang dan hartanya tak terhitung jumlahnya.

Tentang kaya dan miskin, menurut Al-Qur’an dan Sunnah, ada manusia yang miskin di dunia dan miskin pula di akhirat. Sebaliknya ada pula yang kaya di dunia juga kaya di akhirat. Ironisnya ada pula yang kaya di dunia, miskin di akhirat. Tentang orang yang miskin di akhirat, Al-Imam At-Tirmidzi di dalam sunannya, (No. 2342) meriwayatkan bahwa Abu Hurairah RA mengabarkan bahwa Rasulullah SAW pernah pada suatu hari bertanya kepada para sahabat:

“Tahukah kalian siapa orang yang muflis (bangkrut dalam konteks Islam)? “Para sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut menurut kami ya Rasulullah, ialah orang yang tidak mempunyai dirham (uang) dan (tak punya) harta benda”. Rasulullah SAW berkata: “Orang yang bangkrut di kalangan umatku ialah orang yang pada hari kiamat datang dengan membawa (pahala) shalat, shaum (puasa) dan zakat, tetapi ia datang dengan membawa (dosa) memaki si A, menuduh si B, memakan harta si C (termasuk memakan uang hasil hutang yang diniatkan untuk tidak dibayar), menumpahkan darah si D dan memukul si E, maka diambil kebaikannya lalu diberikan kepada orang yang di zaliminya. Kalau ternyata kebaikannya sudah habis, sedang dosanya masih ada, maka dosa orang yang dizaliminya itu dipikulkan kepadanya, lalu akhirnya dilemparkanlah ia ke dalam neraka…”. (HR Muslim).

Orang yang bangkrut (muflis) yang dimaksudkan oleh hadis di atas, yaitu seseorang ketika hidup di dunia mungkin saja kaya harta, tetapi di akhirat ia menjadi muflis atau miskin. Kalau diharuskan memilih, jauh lebih baik miskin di dunia, asal berbahagia di akhirat dengan masuk surga, dari pada di dunia kaya raya (banyak harta) tetapi di akhirat menjadi muflis, sehingga menderita lahir batin dengan derita yang lisan dan tulisan takkan mampu mengungkapkan betapa berat dan dahsyatnya.

Dalam konteks ini Nabi SAW bersabda: “Siapa yang menzalimi saudaranya, baik menyangkut kehormatan saudaranya itu atau apa saja, maka hendaklah ia meminta kehalalan dari saudaranya tersebut pada hari ini (di dunia) sebelum (datang suatu hari dimana) tidak ada lagi dinar dan tidak pula dirham (untuk menebus kesalahan yang dilakukan pada hari kiamat). Bila ia memiliki amal saleh, amal tersebut diambil darinya sesuai kadar kezalimannya (untuk diberikan kepada orang yang dizaliminya sebagai tebusan / pengganti kezaliman yang pernah dilakukannya). Namun bila ia tidak mempunyai kebaikan maka diambil dosa-dosa orang yang pernah dizaliminya, lalu dipikulkan kepadanya”. (HR. Bukhari).

LEBIH BAIK MISKIN DI DUNIA
Berdasarkan hadits di atas, dapat dikatakan bahwa menurut kacamata Islam, lebih baik miskin di dunia, asal kaya di akhirat dari pada kaya di dunia, tetapi miskin di akhirat.

Di dalam hadits lain dikatakan, bahwa Rasulullah SAW pernah memohonkan al-ghinaa (kaya) kepada Allah SWT, lafaznya ialah: “Allahumma innii as-alukal hudaa wat-tuqaa wal ‘afaafa wal ghina”. (Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaaf dan al-ghina). (HR. Muslim).

Kata al-ghina termasuk kata yang multi makna, yang salah satu maknanya ialah kekayaan. Tetapi di dalam hadits dikatakan bahwa yang dikatakan ghina ialah ghinan nafs, kaya jiwa. Nabi SAW bersabda: “Kekayaan bukan karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati”.

Makna ini sejalan dengan makna hadits yang diriwayatkan Ibnu Hibban, Abu Dzar RA berkata: “Rasulullah SAW berkata padaku:“Wahai Abu Dzar, menurutmu, apakah banyaknya harta yang dinamakan kekayaan?” “Benar”, jawab Abu Dzar. Nabi bertanya lagi: “Apakah menurutmu sedikitnya harta berarti fakir?” “Betul”, Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Nabi lalu bersabda: “Sesungguhnya kekayaan adalah kayanya hati (hati selalu merasa cukup), sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati selalu merasa tidak puas).

TIDAK MENGHARAPKAN
Hal itu sejalan pula dengan apa yang dikatakan Ali bin Abi Thalib RA: “Kekayaan terbesar adalah tidak mengharapkan apa yang ada di tangan manusia”. Orang yang benar-benar mempertuhankan dan mentauhidkan Allah SWT, hanya mengharapkan apa yang ada pada Allah dan tidak mengharapkan apa yang ada pada manusia. Maka orang yang bertauhid berarti orang kaya.

Tentang makna al-‘afaaf di dalam hadis di atas, An-Nawawi RHM mengatakan: “Al-‘afaaf di dalam hadits ini bermakna manjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan, sedangkan al-ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang di sisi manusia”. (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 1741).

Masih tentang kaya hati, ulama mengatakan: Kaya hati adalah merasa cukup terhadap apa yang engkau butuhkan. Jika lebih dari itu dan terus engkau cari juga, maka itu berarti bukanlah ghina (kaya hati), tetapi miskin hati.

Hal ini sejalan dengan ucapan Al-Imam Nawawi RHM: “Kaya yang terpuji adalah kaya hati, yang selalu merasa puas dan tidak tamak dalam mencari kemewahan dunia. Kaya yang terpuji bukanlah dengan banyaknya harta dan terus menerus ingin menambah dan terus menambahnya. Siapa yang terus mencari dalam rangka untuk menambah kekayaan yang sudah ada, ia tentu tidak pernah merasa puas dan ia berarti bukan orang yang kaya hati”.

Namun bukan berarti kita tidak boleh kaya harta. Sebab Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda: “Tidak apa-apa dengan kekayaan bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang-orang yang bertakwa lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan.’

TIDAK PERNAH MERASA CUKUP
Kaya harta itu tidak tercela. Yang tercela adalah tidak pernah merasa cukup dan puas (qana’ah) dengan apa yang Allah SWT berikan. Padahal Abdullah bin Amir bin Al-‘Ash mengabarkan Rasulullah SAW bersabda:  

“Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya”. (HR. Muslim No. 1054). Semoga Allah menganugerahi kita akan al-ghina, sehingga hati kita merasa cukup dan bersyukur terhadap apa yang diberikan-Nya.

Di komunitas tertentu, orang yang paling dihormati terkadang bukan orang yang paling bertakwa, tetapi orang yang paling banyak uangnya. Semakin banyak uangnya biasanya akan semakin tinggi penghargaan masyarakat terhadap dirinya walau pun ia bukan seorang hamba Allah yang saleh dan bukan pula dermawan yang memberikan banyak kontribusi terhadap masyarakat lemah yang membutuhkan bantuan. Padahal manusia yang paling mulia di sisi Allah bukan yang paling banyak hartanya bukan pula yang paling tinggi tingkat pendidikan formalnya, tetapi yang lebih tinggi tingkat takwanya, sebagaimana firman Allah SWT: “…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Q.S Al-Hujuraat 49:13).

TAPI SOMBONG DAN KIKIR
Seorang hartawan muslim, hartanya melimpah ruah, tapi sombong, dan kikir. Kekayaan hartanya tidak pernah digunakan di jalan Allah, sekalipun ia menolong orang, selalu mempunyai tujuan yang menguntungkan bagi dirinya. Orang seperti ini tidaklah lebih mulia dibandingkan dengan orang yang hidupnya sederhana, tapi kepeduliannya terhadap orang miskin dan agamanya sangat tinggi. Orang seperti ini dihadapan Allah, lebih mulia, karena dirinya bermanfaat bagi masyarakat banyak, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”.

Apa guna kaya raya, jika manfaatnya terhadap sesama tak ada? Hadits dengan makna yang hampir sama berbunyi: “Semua makhluk adalah jaminan Allah, maka yang paling dicintai Allah di antara mereka adalah yang paling bermanfaat bagi makhluk-Nya”. (HR At-Thabrani dan Abu Ya’la).

Di zaman ini, banyak kita temui orang muslim yang kaya akan hartanya, tetapi sangat kikir. Dalam prinsip hidupnya, selalu ingin menerima, tetapi sangat berat untuk memberi. Banyak contoh yang terjadi di hadapan kita dan itu sudah biasa terjadi dan manusia menerimanya sebagai hal yang wajar.

Seorang yang ingin mencari kerja di perusahaan-perusahaan, kantor-kantor, atau bahkan sebagai pembantu rumah tangga. Mereka harus mampu mengeluarkan biaya yang cukup besar yang disebut pungli (pungutan liar) agar dapat di terima bekerja. Atau orang miskin yang tidak mampu berobat, untuk mendapatkan biaya berobat gratis dari pemerintah harus membayar pula untuk mendapatkan Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) tersebut yang memang seharusnya menjadi hak mereka.

Bukankah mereka pemungli itu hartanya lebih banyak, tetapi mereka selalu meminta kepada orang miskin. Sungguh orang-orang seperti ini sangat tidak bermanfaat bagi manusia yang lain. Padahal Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang dari dirinya dapat diharapkan kebaikan (seperti infaq)”. (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah RA). “Walau pun kaya, kalau tak berinfaq, tak ada manfaatnya”. (HR. Thabrani).

Tentang orang yang paling kaya, Rasulullah SAW berpesan: “Bersikap ridhalah engkau terhadap apa yang dibagikan Allah untukmu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya…”. Marilah kita menjadi hamba Allah yang paling kaya dengan meningkatkan tauhid dan takwa kita kepada Allah SWT, sehingga kita mampu bersikap ridha terhadap semua ketentuan Allah SWT terhadap diri kita, termasuk rizki yang telah ditentukan-Nya untuk kita.

Wallahu a’lam bishshsawab.
Mawardi Abd. Wahid

Keutamaan Sadaqoh (Sedekah)


Suatu saat ada seseorang sedang berjalan di sebuah padang yang luas tak berair, tiba-tiba dia mendengar suara dari awan (mendung), “Siramilah kebun si fulan!” maka awan itu menepi (menuju ke tempat yang ditunjukkan) lalu mengguyurkan airnya di tanah bebatuan hitam. Ternyata ada saluran air dari saluran-saluran itu yang telah penuh dengan air. Maka ia menelusuri (mengikuti) air itu. Ternyata ada seorang laki-laki yang berada di kebunnya sedang mengarahkan air dengan cangkulnya. Kemudian dia bertanya, Wahai hamba Allah, siapakah nama anda? Dia menjawab, “Fulan”.

Sebuah nama yang didengar dari awan tadi. Kemudian orang itu balik bertanya, “Mengapa anda menenyakan namaku?” Dia menjawab, “Saya mendengar suara dari awan yang ini adalah airnya, mengatakan ‘Siramilah kebun si fulan!’ yaitu nama anda. Maka apakah yang telah anda kerjakan dalam kebun ini?”. Dia menjawab, Karena anda telah mengatakan hal ini maka akan saya ceritakan bahwa saya memperhitungkan (membagi) apa yang dihasilkan oleh kebun ini; sepertiganya saya sedekahkan; sepertiganya lagi saya makan bersama keluarga dan sepertiganya lagi saya kembalikan lagi ke kebun (ditanam kembali). (Hadits Riwayat Muslim, dari Abu Hurairah).

Hadits di atas adalah salah satu contoh kisah nyata dari salah satu keutamaan bersodaqah (bersedekah), yaitu Allah (S.W.T.) tidak akan mengurangi rezeki yang kita sedekahkan, dan bahkan Allah (S.W.T.) akan mengganti dan melipat gandakannya.

Sedekah Tidak Mengurangi Rezeki
Allah (S.W.T.) berfirman dalam surat Saba bahwa Allah (S.W.T.) akan mengganti sedekah yang kita keluarkan:

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)’. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (Q.S. Saba 34:39)

Secara logika, mungkin kita akan berfikir bahwa harta yang kita keluarkan untuk sedekah berarti pengurangan harta yang ada di tangan kita. Tetapi pada kenyataannya Rasulullah (S.A.W.) pernah bersabda bahwa harta seseorang tidak akan berkurang karena disedekahkan:

“Ada tiga perkara yang saya bersumpah atasnya dan saya memberitahukan kepadamu semua akan suatu Hadits, maka peliharalah itu: Tidaklah harta seseorang itu akan menjadi berkurang sebab disedekahkan, tidaklah seseorang hamba dianiaya dengan suatu penganiayaan dan ia bersabar dalam menderitanya, melainkan Allah menambahkan kemuliaan padanya, juga tidaklah seseorang hamba itu membuka pintu permintaan, melainkan Allah membuka untuknya pintu kemiskinan,” (H.R. Tirmidzi, dari Abu Kabsyah, yaitu Umar bin Sa’ad al-Anmari r.a.)

Sedekah Membuka Pintu Rezeki
Rasulullah (S.A.W.) pernah bersabda “Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sedekah.” (HR. Al-Baihaqi)

Dalam salah satu hadits Qudsi, Allah Tabaraka wata’ala berfirman: “Hai anak Adam, infaklah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu.” (H.R. Muslim)

Dalam hadits lain yang dinarasikan oleh Abu Hurairah (r.a.), Nabi (S.A.W.) pernah bersabda: “Tidak ada hari yang disambut oleh para hamba melainkan di sana ada dua malaikat yang turun, sala satunya berkata: “Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang-orang yang berinfaq. Sedangkan (malaikat) yang lainnya berkata: “Ya Allah berikanlah kehancuran kepada orang-orang yang menahan (hartanya).” (H.R. Bukhari – Muslim)

Ada satu kisah pada zaman Nabi (S.A.W.) yang mana seseorang yang banyak hutang berdiam di masjid di saat orang-orang bekerja. Ketika ditanya oleh Nabi (S.A.W.), orang tersebut menjawab bahwa ia sedang banyak hutang. Yang menarik adalah Nabi (S.A.W.) mengajarkan beliau sebuah doa, yang mana doa tersebut tidak menyebut sama sekali “Bukakanlah pintu rezeki” atau “Perbanyaklah rezeki saya sehingga bisa membayar hutang”. Tetapi doa yang diajarkan oleh Nabi (S.A.W.) adalah meminta perlindungan dari rasa malas dan bakhil (pelit). Hadits-hadits di atas menjelaskan tentang doa ini, bahwa ke-tidak-pelitan seseorang untuk bersedekah membuka pintu rezeki orang tersebut.

Doa tersebut adalah: “Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu daripada kegundahan dan kesedihan, daripada kelemahan dan kemalasan, daripada sifat pengecut dan bakhil (pelit), daripada kesempitan hutang dan penindasan orang.”

Sedekah Melipat Gandakan Rezeki
Bukan saja sedekah membuka pintu rezeki seseorang, tetapi bahkan bersedekah juga melipat-gandakan rezeki yang ada pada kita. Rasulullah (S.A.W.) pernah bersabda:  

“Barangsiapa bersedekah dengan sesuatu senilai satu buah kurma yang diperolehnya dari hasil kerja yang baik, bukan haram, dan Allah itu tidak akan menerima kecuali yang baik. Maka sesungguhnya Allah akan menerima sedekah orang itu dengan tangan kanannya, sebagai kiasan kekuasaan-Nya, kemudian memperkembangkan pahala sedekah tersebut untuk orang yang melakukannya, sebagaimana seseorang dari engkau semua memperkembangkan anak kudanya sehingga menjadi seperti gunung – yakni memenuhi lembah gunung karena banyaknya.” (Muttafaq ‘alaih, dari Abu Hurairah r.a.)

Janji Allah (S.W.T.) dalam Al-Qur’an bahwa Allah akan melipat-gandakan sedekah kita menjadi 700 kali lipat:
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah 2:261)

Sedekah Menjaga Warisan
Rasulullah (S.A.W.) bersabda “Tidaklah seorang yang bersedekah dengan baik kecuali Allah memelihara kelangsungan warisannya.” (H.R. Ahmad)

Di dalam Surat Al-Kahfi ada kisah tentang perjalanan Nabi Musa (A.S.) dengan Khidir. Di dalam kisah tersebut Khidir memperbaiki diding rumah dari dua anak yatim, dan menjelaskan bahwa di bawah dinding tersebut ada harta warisan dari orang tua mereka yang soleh. Khidir memperbaiki dinding tersebut agar harta warisan tersebut tetap pada tempatnya sampai sang anak menjadi dewasa. Demikianlah salah satu contoh bagaimana Allah (S.W.T.) melindungi warisan seseorang.

Sedekah adalah Naungan Kita Di Hari Kiamat
Rasulullah (S.A.W.) bersabda “Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya.” (HR. Ahmad)

Dalam hadist lain, Rasulullah (S.A.W.) pernah bersabda tentang tujuh orang yang diberi naungan oleh Allah (S.W.T.) pada hari yang mana tidak ada naungan kecuali naungan dari-Nya. Salah satu orang yang diberi naungan pada hari itu adalah orang yang bersedekah dengan tangan kanan, tetapi tangan kirinya tidak mengetahuinya.

Sedekah Menjauhkan Diri Kita Dari Api Neraka
Allah (S.W.T.) juga berfirman bahwa salah satu ciri dari orang yang bertaqwa yang akan masuk surga adalah orang yang bersedekah diwaktu lapang maupun sempit.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (Q.S. Ali Imran 3:133-134).

Sedekah Mengurangi Kesakitan Kita Di Sakaratul Maut
Dalam buku Fiqh-Us-Sunnah karangan Sayyid Sabiq, disebutkan Rasulullah (S.A.W.) pernah bersabda: “Sedekah meredakan kemarahan Allah dan menangkal (mengurangi) kepedihan saat maut (Sakaratul maut).”

Rasulullah (S.A.W.) juga pernah bersabda, “Sedekah dari seorang Muslim menigkatkan (hartanya) dimasa kehidupannya. Dan juga meringankan kepedihan saat maut (Sakaratul maut), dan melauinya (sedekah) Allah menghilangkan perasaan sombong dan egois. (Fiqh-us-Sunnah vol. 3, hal 97)

Sedekah Mengobati Orang Sakit
Rasulullah (S.A.W.) bersabda, “Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersedekah dan persiapkan do’a untuk menghadapi datangnya bencana.” (H.R. Ath-Thabrani)

Sedekah Untuk Janda dan Orang Miskin Diibaratkan Seperti Orang Yang Berpuasa Terus Menerus
Rasulullah (S.A.W.) bersabda, “Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam. Ia tidak merasa lelah dan ia juga ibarat orang berpuasa yang tidak pernah berbuka.” (H.R. Bukhari)

Quality adalah Lebih Baik Dari Quantity
Bersedekah seribu rupiah bisa jadi lebih baik dari pada bersedekah seratus-ribu rupiah. Jika seseorang hanya memiliki dua ribu rupiah kemudian di sedekahkannya seribu rupiah maka sedekah tersebut adalah lebih baik dari pada sedekah dari seseorang Milyuner tetapi hanya mensedekahkan seratus ribu rupiah.

Rasulullah (S.A.W.) pernah bersabda, “Satu dirham memacu dan mendahului seratus ribu dirham”. Para sahabat bertanya, “Bagaimana itu?” Nabi (S.A.W.) menjawab, “Seorang memiliki (hanya) dua dirham. Dia mengambil satu dirham dan bersedekah dengannya, dan seorang lagi memiliki harta-benda yang banyak, dia mengambil seratus ribu dirham untuk disedekahkannya. (HR. An-Nasaa’i)

Sedekah Yang Paling Besar Pahalanya
Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah (S.A.W.), “Sedekah yang bagaimana yang paling besar pahalanya?” Nabi (S.A.W.) menjawab, “Saat kamu bersedekah hendaklah kamu sehat dan dalam kondisi pelit (mengekang) dan saat kamu takut melarat tetapi mengharap kaya. Jangan ditunda sehingga ruhmu di tenggorokan baru kamu berkata untuk Fulan sekian dan untuk Fulan sekian.” (HR. Bukhari)

Demikianlah beberapa dari keutamaan sadaqah (sedekah) yang bisa dijelaskan dalam artikel ini. Mudah-mudahan kita semua menjadi golongan hamba Allah yang banyak dan gemar bersedekah.

Berbaktilah Kepada Orang Tuamu, Niscaya Anak-anakmu Akan Berbakti Kepadamu


Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an :

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun, dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa.” (Q.S.An Nisa’ : 36)
 
Salah satu bentuk taqwa kepada Allah SWT adalah kita melaksanakan hak Allah dan hak-hak hamba-Nya. Dimana hak yang terbesar diantara hamba Allah adalah hak orang tua. Islam telah meletakkan kedua orang tua pada kedudukan yang mulia dan tinggi. Allah SWT telah menegaskan di dalam Al Qur’an bahwa setiap muslim wajib untuk mentauhidkan-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun. Kemudian disertai dengan perintah untuk senantiasa berbuat baik kepada kedua orang tua. Dan orang tua adalah pembawa berkah dalam kehidupan anaknya. Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa keridhoan Allah SWT bersama keridhaan orang tuanya dan kemurkaan Allah SWT bersama kemurkaan orang tua. Yang maksudnya adalah Allah SWT akan meridhoi seseorang apabila orang tuanya meridhoinya dan sebaliknya, Allah juga akan memurkai seseorang jika orang tuanya memurkainya.

Dalam Al Qur’an banyak sekali ayat yang memperingatkan setiap muslim agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Dimana, hampir setiap perintah untuk menyembah Allah disertai dengan perintah untuk berbakti kepada kedua ibu bapak. Islam mengajarkan tidak adanya jarak antara anak dan kedua orang tuanya walaupun sedikit. Karena itu seorang anak harus senantiasa dekat dan merasa dekat dengan keduanya dalam keadaan apapun juga. Kebaktian anak terhadap orang tua pada hakekatnya bukan untuk orang tuanya semata dan bukan untuk membalas jasa kedua ibu bapaknya, tetapi untuk anak itu sendiri. Karena mustahil bagi seorang anak untuk dapat membalas segala kebaikan orang tua sekalipun dalam bentuk apapun juga.

Rasulullah SAW pernah bersabda : “Berbaktilah kepada orang tuamu, niscaya anak-anakmu akan berbakti kepadamu”. (H.R. Thabrani)

Kenyataan-kenyataan hidup membuktikan bahwa apa-apa yang dilakukan seseorang terhadap kedua orang tuannya, tak ayal dilakukan oleh anak-anaknya terhadap dirinya. Betapa banyak seorang anak secara langsung maupun tidak langsung mencaci maki kedua orang tuanya, hingga ia dikatakan sebagai pendurhaka kepadanya, lalu anak-anaknya mendurhakainya dan mengotori kejernihan hidupnya. Dan betapa banyak pula seorang anak berbuat kebajikan kepada kedua orang tuanya dengan ucapan dan perbuatan yang akibatnya anak-anaknya melakukan kebajikan dan penghormatan kepadanya.

Dalam kitab Tanbihul Ghofilin disebutkan bahwa ada sepuluh tugas yang harus dilaksanakan oleh seorang anak kepada kedua ibu bapaknya, antara lain :
  1. Memberinya makan bila dibutuhkan.
  2. Memberi pelayanan yang baik, bila dibutuhkan.
  3. Menyahut panggilannya jika keduannya memanggil.
  4. Mentaati semua perintah keduanya, kecuali perintah maksiat.
  5. Berbicara dengan sopan santun dan lemah lembut.
  6. Memberinya pakaian jika keduanya membutuhkan.
  7. Berjalan dibelakangnya, tidak boleh mendahuluinya.
  8. Mengusahakan kerelaannya dengan sesuatu yang dia sendiri rela.
  9. Menjauhkan dari padanya sesuatu yang dia sendiri pun menjauhinya.
  10. Mendo’akannya agar mendapat ampunan Allah SWT.
Tugas-tugas berbakti, menyantuni dan berbuat baik kepada kedua orang tua merupakan tugas utama sebelum tugas-tugas duniawi lainnya dilaksanakan. Inilah ajaran-ajaran Islam yang terkandung dalam Al Qur’an :

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia. (Q.S. Al Isra’ : 23)

Hari ini tidak bisa kita pungkiri bahwa nilai menghormati orang tua sudah mulai luntur dalam kehidupan masyarakat yang mengarah kepada kedurhakaan. Sungguh perbuatan yang dzalim seorang anak yang membiarkan orang tuanya ketika sangat memerlukan cinta dan kasih sayang anaknya. Maka tidak heran kalau hari ini telah lahir “Si Malin Kundang dan Si Dedap” dalam bentuk baru di dunia yang modern ini. Lalu dimana kesalahannya ? Bukankah bagaimana hebat pun dan berjayanya seorang anak, tidak akan bermakna tanpa diberkati oleh orang tuanya.

Mungkin ia terjadi karena cinta dan kasih sayang orang tua tidak mengalir dalam diri anaknya ketika mereka di alam kanak-kanak atau masa remaja atau mungkin anak yang sudah dipengaruhi oleh gaya kehidupan modern yang egoistis serba materialis, yang merasa mereka lebih hebat dibandingkan dengan orang tuanya. Anak dan orang tua mempunyai hubungan yang tidak akan pernah terputus selama anak senantiasa tetap mendoakan kedua orang tuannya.

Dan inilah sebenarnya harapan setiap orang tua terhadap anak-anaknya. Doa anak kepada kedua orang tuannya sangat dianjurkan di dalam Islam, baik ketika mereka masih hidup apalagi ketika mereka sudah kembali ke rahmatullah. Allah SWT memperingati dalam firman-Nya :

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Q.S. Al Isra’ : 24) Dan Rasulullah SAW pun juga telah mengajarkan kepada kita satu do’a yang selalu kita baca setelah melaksanakan shalat : “Ya Allah, Ampunilah dosaku dan dosa kedua ibu bapakku dan kasihanilah mereka berdua seperti mereka mendidikku di waktu kecil”.

Oleh karena itu amatlah wajar kita senantiasa berbakti, menyantuni dan berbuat baik serta berdo’a kepada Allah SWT agar mereka berdua senantiasa mendapat keampunan dan rahmat Allah SWT. Semoga kita termasuk orang yang shaleh, senantiasa berbakti kepada kedua orang tua setiap saat dan dimana saja kita berada. Amin.

Semoga kita termasuk golongan orang orang yang berbakti kepad kedua orang tua sehingga anak-anak kita kelak juga demikian halnya. Wallahu A’lam.

Sumber diambil dari:
https://www.facebook.com/Jurnal-Hukum-Islam-dan-Kepenghuluan-401301293280581/?fref=nf